Sabtu, 25 April 2015

Headline - 11:00 Backpacker 00:02 Muda yang Menyelamatkan Ratusan Jiwa

 

Jakarta--Sebenarnya, selepas kuliah Conor Grennan langsung mendapatkan pekerjaan yang wajar membuat orang cemburu. Ia diterima di East West Institute, sebuah lembaga pemikiran kebijakan publik di tingkat internasional.Awalnya ia bekerja di Prague, ibu kota Republik Ceko. Belakangan, Conor dipindahkan ke Brussels, Belgia, kantor lembaga itu untuk kawasan Uni Eropa.

Awalnya Conor sangat mencintai pekerjaannya. Tetapi bagaimanapun, delapan tahun melakukan hal yang sama, bekerja di belakang meja, berpikir dan menyiasati aneka kebijakan public, tak urung membuatnya jenuh. Ia bosan dan merasa memerlukan sebuah perubahan radikal dalam hidupnya. Sebuah keputusan mendadak pun diambilnya: dikurasnya tabungan yang dikumpulkannya selama ini. Conor yakin, ia harus melakukan perjalanan setahun keliling dunia untuk membuat hidupnya berarti.

Agar terkesan keren, Conor memutuskan untuk jadi sukarelawan di sebuah panti asuhan sebelum memulai perjalanan. Melalui riset kecil via jaringan internet, ia menemukan sebuah panti asuhan di sebuah negeri kecil yang kerap diamuk perang saudara: Nepal. Panti itu bernama Little Princes Children’s Home.  Conor mengalokasikan waktu tiga bulan, sebelum kemudian meneruskan hajatnya keliling dunia.

Tak dinyana, tiga bulan bersama anak-anak Nepal itu sangat membekas di batin Conor. Conor menyelesaikan perjalanannya dan kembali ke rumah pada Oktober 2005. 

Tiga bulan kemudian ia memutuskan kembali ke Little Princes. Ada janji untuk kembali yang sempat ia nyatakan kepada anak-anak di Godawari itu. Conor masih mengingat jelas linangan air mata para yatim itu saat ia melangkah keluar gapura panti. Conor masih bisa merasakan hangat yang basah di sudut matanya – hal yang tak pernah ia alami sebelumnya, saat ia menunggui Santosh, seorang anak yatim yang terserang sakit di sebuah rumah sakit sederhana di Godawari. Itu terjadi di malam sebelum ia pergi berkeliling dunia. Malam yang membuatnya sadar betapa selama ini tak pernah dirinya berusaha menyayangi anak-anak, terutama para yatim piatu.   

Ketika kembali, Conor menemukan segala sesuatu telah berubah. Hanya Farid, sukarelawan Little Princes, yang bertahan. Lainnya bertebaran mencari selamat karena perang saudara kembali pecah di Nepal. Kini tentara bersenjata terlihat dimana-mana, juga sesekali gerilyawan bersenjata Maois yang mencoba berjuang di jalan mereka. Yang pasti, semua membuat kemiskinan yang sebelumnya ia lihat pun, jadi kian memprihatinkan.

Tentu saja, perang juga membawa bencana lain. Anak-anak yang terpisah dari orang tua mereka. Sebagian mungkin karena dampak alamiah perang, tercecer saat evakuasi atau menghindar lari. Lainnya karena sifat manusia yang keji: perdagangan manusia.

Buku ini mengulas banyak kiprah Conor, Farid dkk untuk membebaskan anak-anak itu dari perdagangan manusia. Awalnya dengan cara-cara sederhana dan tak tertata. Sampai Conor sadar, perlu sebuah upaya sistemastis untuk melawan semua itu.

Ia pun kemudian mendirikan Next Generation Nepal (NGN), sebuah lembaga nirlaba yang khusus mengurus persoalan tersebut. Hingga buku ini terbit pertama kali pada 2010 lalu, tak kurang dari 400-an anak berhasil dikembalikan kepada orang tua mereka. Sebuah pekerjaan besar sebenarnya. Pekerjaan yang tak akan pernah bisa dinilai dengan dana.

“Bisakah kau bayangkan, Conor? Bagaimana perasaan orang tua itu mendapatkan kembali anak-anak mereka? Menjadi sebuah keluarga kembali?” kata Farid. Kata-kata sederhana itulah yang dulu membuat Conor memulai upayanya, dalam keterbatasan.

Buku ini kembali mengingatkan kita bahwa hal-hal besar seringkali dimulai dengan sesuatu yang sederhana. [dsy]

--

Judul           : Little Princes

Penulis         : Conor Grennan

Penerjemah  : Eva Nukman

Editor                   : Esti A Budihabsari

Penerbit      : Qanita-Mizan

Cetakan       : 1 Februari 2015

Halaman       : 460 hlm.

ISBN :        978-602-1637-66-1

 

 


source : http://nasional.inilah.com/read/detail/2199138/backpacker-muda-yang-menyelamatkan-ratusan-jiwa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar