Jakarta – Jelang libur panjang pekan ini, para pemodal cenderung menjual sahamnya. Meski begitu, IHSG masih bertahan positif dalam sepekan terakhir. Faktor apa saja?
Dalam sepekan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 59,55 poin (1,1%) ke posisi 5.456,4 pada pekan yang berakhir Kamis (2/4/2015) dibandingkan akhir pekan sebelumnya di angka 5.396,85 per Jumat (27/3/2015).
“Pasca terhempas ke zona merah, laju IHSG mampu tercatat positif di pekan kemarin,” kata Reza Priyambada, kepala riset NH Korindo Securities Indonesia (NHKSI) kepada INILAHCOM di Jakarta, Minggu (5/4/2015).
Positifnya laju bursa saham AS di pekan sebelumnya yang berimbas pada laju bursa saham Asia sedikit banyak berpengaruh positif pada laju IHSG di pekan kemarin. “Pelaku pasar pun masih kembali melakukan aksi belinya sehingga mampu mendorong IHSG bertahan di zona hijau,” ujarnya.
Laju IHSG mampu menjawab harapan sekaligus menepis kekhawatiran akan potensi pembalikan arah seperti yang ulasan sebelumnya. Meskipun utang gap lama di level 5.342-5.372 (17-18 Februari) belum tertutup seluruhnya namun, mulai ada dorongan beli yang membuat IHSG berbalik naik.
Meski transaksi asing masih mencatatkan net sell saat itu dan laju rupiah yang masih dalam pelemahannya, tidak menghalangi IHSG untuk melanjutkan penguatannya. “Masih positifnya laju bursa saham AS dan Eropa sesuai harapan yang ditopang aksi M&A dari sektor farmasi memberikan sentimen positif pada laju IHSG,” papar dia.
Pelaku pasar pun masih kembali melanjutkan aksi belinya hingga mendorong IHSG bertahan di zona hijau dan bahkan berhasil melampaui estimasi sebelumnya. “Positifnya laju bursa saham AS yang berimbas pada laju bursa saham Asia dan diikuti oleh maraknya emiten yang merilis kinerjanya yang sebagian besar sesuai estimasi sedikit banyak berpengaruh positif pada laju IHSG,” kata Reza menambahkan.
Pelaku pasar pun masih kembali melakukan aksi belinya sehingga mampu mendorong IHSG bertahan di zona hijau. Dengan adanya utang gap baru juga tidak menghalangi positifnya laju IHSG. “Apalagi penguatan kali ini mendapat tambahan angin segar dari terapresiasinya laju rupiah dan berbaliknya investor asing kembali melakukan nett buy,” tuturnya.
Di hari berikutnya, imbas melemahnya laju bursa saham AS dan Eropa hingga Asia memberikan kesempatan bagi pelaku pasar untuk melakukan aksi jual yang tak terbendung. “Rilis kinerja emiten yang hampir sebagian besar sudah keluar tampaknya telah price in di pasar di mana kinerjanya rata-rata inline dengan perkiraan meskipun ada beberapa di antaranya yang di bawah estimasi,” ucapnya.
Dengan telah price in-nya kinerja keuangan emiten membuat bahan ekspektasi kian berkurang dan memuluskan aksi jual. Bahkan rilis kenaikan inflasi yang lebih rendah dari estimasi dan penguatan laju rupiah, tampaknya kurang mampu mempertahankan IHSG di zona hijaunya.
Di sisi lain, hal positif dari penurunan ini ialah telah tertutupinya utang gap 5.460-5.484 sehingga masih ada utang gap di 5.398-5.413 dan 5.343-5350.
Jelang libur panjang sekaligus memperingati Good Friday, laju IHSG terlihat kurang bersemangat. Pelaku pasar cenderung melakukan aksi jual, terutama para pemodal lokal. “Kondisi inipun seiring dengan turunnya consumer confidence Indonesia. Meski terjadi pelemahan namun, secara mingguan tercatat positif,” imbuhnya. [jin]
source : http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2192933/aksi-jual-menyerang-ihsg-bertahan-positif
Tidak ada komentar:
Posting Komentar