Jakarta--Ketika guru agung dan syuhada Manhur Al Hallaj berada di tengah kerumunan, dihukum karena kemurtadan dan bid'ah, ia tidak menunjukkan tanda-tanda kesakitan saat tangannya dipotong di depan umum.
Ketika kerumunan orang melempar batu yang menyebabkan luka parah, ia tenang saja. Salah seorang temannya, seorang guru Sufi, mendekatinya dan memberinya -- bunga.
Manshur berteriak seolah dalam siksaan. Ia melakukan ini untuk menunjukkan bahwa ia tidak dapat disakiti oleh perbuatan orang-orang yang mengira mereka berbuat benar. Tetapi hanya sentuhan dari orang yang tahu, seperti dia, bahwa dirinya dihukum dan dituduh dengan tidak adil, jauh lebih menyakitkan baginya dari siksaan apa pun.
Manshur dan teman Sufinya, tidak berdaya kendati mereka ada di depan tirani seperti itu, teringat akan pelajaran tersebut. Sementara penganiaya-penganiaya mereka hampir terlupakan.
Saat sekarat, Manshur berkata, "Orang-orang di dunia ini mencoba berbuat baik. Aku anjurkan engkau mencari sesuatu di mana bagian paling kecilnya lebih berarti daripada semua kebaikan; pengetahuan tentang kebenaran -- pengetahuan sejati."
Ahmad bin Hanbal dan Kondisi Pemikiran
Ahmad ibnu Hanbal adalah pendiri salah satu dari empat madzhab hukum yang besar, dan sahabat beberapa Guru Sufi awal. Di masa tua dan lemahnya, sebuah kelompok bid'ah di Baghdad merampas kekuasaan dan mencoba menyingkirkan dirinya, yang dari sudut pandang mereka dianggap sebagai kebenaran.
Imam Ahmad menolak, maka ia diberi seribu cambukan dan disiksa. Sebelum mati, dan memang meninggal segera setelah disiksa, ia ditanya apa yang ia pikirkan tentang pembunuh-pembunuhnya.
Katanya, "Aku hanya dapat mengatakan bahwa mereka memukulku karena mereka percaya bahwa mereka benar dan aku salah. Bagaimana aku dapat menuntut keadilan terhadap mereka yang percaya bahwa mereka benar?"
Orang Percaya akan Apa yang Dia Kira Benar
Ajaran, sebagaimana kebiasaannya, sepanjang urusan kehidupan secara umum. Syeikh Abu Thahir al-Harami mengendarai keledainya ke pasar, seorang murid mengikuti di belakang.
Di sisinya, seseorang berteriak, "Lihat, ini orang kafir kuno!" Sang pengikut al-Harami, timbul amarahnya, berteriak pada tukang fitnah tersebut. Sebelum pertikaian semakin sengit, Sufi menenangkan muridnya, berkata, "Jika engkau menghentikan pertengkaran ini, aku akan menunjukkan padamu bagaimana engkau dapat melarikan diri dari persoalan seperti ini."
Mereka pergi bersama ke rumah Syeikh. Lantas Syeikh menyuruh pengikutnya membawakan sekotak surat: "Lihatlah ini. Semua surat ini ditujukan padaku. Tetapi mereka menulis istilah yang berbeda. Ini seseorang menyebutku 'Syeikh Islam', kemudian, 'Guru Mulia'. Lainnya mengatakan aku 'Orang Bijak dari Altar Kembar'. Dan sebutan-sebutan lainnya.
Amatilah bagaimana masing-masing sebutanku sesuai dengan anggapan mereka. Tetapi aku tidak satu pun seperti apa yang ia pikirkan demikian. Demikian itulah yang baru saja dilakukan orang malang di pasar tadi. Dan engkau menolaknya. Mengapa engkau berbuat demikian -- sudah menjadi aturan umum dalam kehidupan?" [ ]
source : http://mozaik.inilah.com/read/detail/2193483/saat-tangan-sufi-al-hallaj-dipotong-di-depan-umum
Tidak ada komentar:
Posting Komentar