Senin, 04 Mei 2015

Headline - 11:00 Jokowi-JK, 00:01 Antara Keterpurukan dan Kepercayaan

Jakarta - Para politikus Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi Merah Putih (KMP) di parlemen terus mendesak agar Presiden Joko Widodo merombak kabinet atau reshuffle. Publik pun menilai tim ekuin Jokowi tidak kompeten dan tidak bisa dipercaya serta tidak amanah.

Harus diakui, tim ekuin Kabinet Kerja Jokowi dalam sorotan publik karena ekonomi terpuruk. Wajar kalau evaluasi terhadap kinerja kabinet terus disuarakan kalangan parlemen karena harapan rakyat kepada pemerintahan Jokowi-JK kian sirna.

Rakyat seakan mengalami 'zaman kelam', era kelabu, selama enam bulan terakhir akibat melonjaknya harga energi dan harga kebutuhan pokok lainnya. Pasalnya, kurang dari sebulan memerintah, Jokowi-JK mulai melakukan kebijakan tidak populer dengan menaikkan harga BBM.

Para analis melihat, kebijakan itu semakin  'enigmatik atau misterius' karena diikuti pelbagai kebijakan turunan yang tidak sehat bagi ketahanan ekonomi rakyat seperti kenaikan tarif dasar listrik, gas, kereta api, dan lain-lain. Sungguh, ekonomi rakyat mengalami pukulan bertubi dan kontraksi.

Pemerintah juga tak kuasa mengendalikan inflasi dan kenaikan harga bahan pokok dan transportasi publik. Semua rencana Jokowi-JK dan kabinetnya terlihat tidak matang dan rontok terlalu dini.
 
Situasi itu memukul rakyat banyak, padahal sebagian besar pemilih Jokowi adalah wajah rakyat kebanyakan: wong cilik, wong ndeso, dan wong prihatin. Maka, tentu tidak ada yang menduga jika Joko Widodo, Presiden "harapan baru" Indonesia-seperti judul utama Majalah Time, edisi 27 Oktober 2014 kini merosot tajam popularitasnya, berubah lebih cepat dari cuaca. Itulah politik.

Menurut Teuku Kemal Pasya, pengamat politik Universitas Malikussaleh, kenaikan harga BBM di tengah kecenderungan harga minyak mentah dunia turun drastis dan jauh di bawah asumsi APBN Perubahan 2014 adalah keanehan dalam kacamata matematika ekonomi dan fiskal mana pun. Akibatnya, rakyat kehilangan kepercayaan dan harapan pada pemerintahan sekarang.
 
Kini, satu-satunya harapan bagi rakyat adalah perombakan tim ekuin kabinet dengan menempatkan sosok-sosok yang kredibel. Agar ekonomi rakyat bisa bergerak dinamis dan gejolak harga sembako bisa dikendalikan, agar pertumbuhan ekonomi nasional dan stabilitas politik terjaga.
 
Perombakan kabinet kini menemukan momentumnya: ada kesamaan kepentingan kubu KIH dan KMP yang sudah mencapai titik puncak yakni perombakan kabinet merupakan keharusan karena ekonomi terpuruk dan kemunduran politik menumpuk, ditandai dengan perpecahan PPP dan Golkar serta merosotnya kepercayaan publik pada partai politik dan demokrasi liberal.

Oleh sebab itu, tim ekuin Kabinet Kerja tak boleh lagi memaksakan diri untuk bertahan. Koalisi kandang Banteng yakni KIH maupun KMP juga harus mencermati suara rakyat yang menginginkan perubahan demi  kehidupan sosial-ekonomi yang lebih baik.

Sekali lagi, perombakan kabinet adalah hak prerogatif Presiden. Karena itu sudah sewajarnya jika tim ekuin Kabinet Kerja menyerahkan nasib sepenuhnya kepada Presiden Jokowi.

Pemerintahan Jokowi-JK harus menyadari bahwa di tengah keterpurukan ekonomi, mustahil kepercayaan publik  bisa dipertahankan. Jokowi-JK, saya kira, tidak lupa pada pepatah ini: bahwa sekali lancung di ujian, seumur hidup orang tidak percaya. [yha]


source : http://nasional.inilah.com/read/detail/2201549/jokowi-jk-antara-keterpurukan-dan-kepercayaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar