Jakarta - Status Indonesia sebagai negara penghasil karet alam terbesar ternyata tidak sesuai dengan tingkat penggunaan karet di domestik.
Para petani layak iri dengan negara tetangga seperti Malaysia, China dan India.Di tiga negara itu, industrinya menyerap 40 persen karet alam untuk diolah dalam proses produksi.
"Indonesia produsen karet terbesar tapi hanya terserap 18 persen. Makanya saya tantang industri ban, sarung karet, komponen elektronik, otomotif untuk menaikkan hingga sama-sama 40 persen," kata Menteri Perindustrian Saleh Husin di Jakarta, awal pekan ini.
Jika industri bisa meningkatkan serapan ini, imbuh Menperin, dapat dijadikan bukti pelaksanaan komitmen mereka terhadap perbaikan nasib petani karet."Jadi, jangan hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar produk industri, tapi harus turut menyejahterakan pelaku produksi karet di hulunya, di kebun-kebun," ujar Saleh.
Pemerintah juga mendorong pelaku industri karet memanfaatkan terobosan yang dilakukan Kementerian Perindustrian. Yaitu, penguatan struktur industri barang-barang karet; pemberian insentif untuk industri berteknologi tinggi maupun industri berorientasi ekspor; pengembangan kawasan industri, serta mendorong investasi karet sintetis dan kimia karet. Produk karet sendiri merupakan salah satu jenis industri yang bertumpu pada kekuatan potensi sumber daya alam sehingga mampu mendukung pembangunan nasional.
Menperin mencatat, saat ini produksi karet alam di Indonesia melebihi 3 juta ton per tahun, dan akan terus ditingkatkan lagi mengingat potensi lahan yang ada mencapai 3,5 juta hektar. Selain itu, peningkatan produksi karet alam nasional perlu didukung dengan program-program penelitian dan pengembangan yang dilakukan baik oleh pemerintah, institusi pendidikan maupun pihak swasta. [tar]
source : http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2203644/menperin-tantang-industri-serap-40-produk-karet
Tidak ada komentar:
Posting Komentar