Washington - Kepemilikan China atas obligasi pemerintah AS turun untuk bulan kelima berturut-turut, Januari 2015. Demikian data Departemen Keuangan AS menunjukkan, Senin (16/03/2015).
Tiongkok, pemegang asing terbesar surat utang negara AS, mengurangi kepemilikannya sebesar U$5,2 miliar menjadi US$1,2391 triliun, Januari 2015.
Sementara itu, Jepang, pemegang terbesar kedua, menaikkan kepemilikannya atas obligasi pemerintah AS sebesar US$7,7 miliar menjadi US$1,2386 triliun. Jepang terakhir mengungguli China sebagai pemegang surat utang negara AS, 2008.
Defisit neraca modal China melebar tajam pada kuartal terakhir 2014 menjadi 91,2 miliar dolar AS, dibandingkan dengan kuartal ketiga sebesar US$9 miliar. Pelebaran defisit tersebut telah memicu kekhawatiran tentang arus keluar modal besar-besaran dari negara itu, karena pertumbuhan ekonomi melambat.
Karena China secara bertahap bergerak untuk membuat mekanisme devisa lebih berorientasi pasar, struktur 'surplus perdagangan dan arus modal' akan menjadi semakin normal, State Administration of Foreign Exchange (SAFE) China mengatakan dalam sebuah laporan.
Beberapa ekonom mengatakan, selera untuk membeli aset-aset dolar telah melemah sejalan dengan berkurangnya intervensi pemerintah di pasar valuta asing. SAFE menegaskan aliran modal keluar masih 'moderat dan terbatas' serta likuiditas di pasar valuta asing tetap 'cukup'. [tar]
source : http://pasarmodal.inilah.com/read/detail/2187553/china-kurangi-kepemilikan-surat-utang-as
Tidak ada komentar:
Posting Komentar