Jakarta - Pada 2035, penduduk Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar 300 juta orang. Urbanisasi ke Jakarta bakal meluap. Bayangkan, berapa lonjakan pemakai sepeda motor, mobil dan kebutuhan pangan dan energi serta obat-obatan? Tentu, semua kebutuhan itu bakal membludak.
Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memproyeksikan penduduk Indonesia pada 2035 mencapai 305,6 juta jiwa. Tahun ini saja, kemacetan ibu kota sudah mampat dengan puluhan juta kendaraan bermotor.
Tahun depan, jalan-jalan raya di ibu kota akan penuh sesak kendaraan bermotor, sementara arus penumpang transportasi massal seperti kereta api, bakal membludak.
Survei yang dilakukan Juni 2014 lalu oleh Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menyatakan 68.500 orang dari daerah bakal menyerbu Jakarta. Urbanisasi meningkat hampir sekitar 30% dibandingkan tahun 2013.
Pada 2013 diperkirakan hanya 51.500 penduduk yang datang ke DKI. Peningkatan ini cukup tajam, yakni sekitar 17 ribu orang. Bayangkan, jika pemakaian sepeda motor dan mobil pribadi tak dibatasi, maka Jakarta bakal macet total tahun depan.
Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk, maka akan semakin meningkat pula kebutuhan akan pangan. Berdasarkan hitungan dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, penduduk Indonesia akan mencapai 300 juta jiwa pada 2030 atau mengalami kenaikan sebanyak 60 juta jiwa dalam kurun waktu 16 tahun.
Pemerintah harus menyiapkan produksi beras komposit dalam menghadapi ketersediaan pangan. Dengan asumsi konsumsi beras 130 kg per kapita per tahun, maka akan diperlukan tambahan beras sekitar 7,8 juta ton beras.
Indonesia akan mengalami kekurangan pangan bahkan akan mengalami impor besar-besaran dilihat dari kondisi produksi beras saat ini. Diterangkannya, menurut angka sementara BPS, produksi beras sebesar 38,2 juta ton beras. Sementara, jika tidak ada usaha perlindungan lahan pertanian, konversi lahan akan terjadi sekitar seratus ribu hektare per tahun hingga 2030.
Indonesia merupakan negara yang memiliki laju pertumbuhan penduduk sangat pesat dengan populasi terbanyak sama dengan Tiongkok, India, Brasil, dan Nigeria.
World Bank memasukkan RI ke level higher middle income, dengan jumlah penduduk bakal tembus 300 juta jiwa.
Jumlah ini tumbuh 28,6% bila dibandingkan dengan penduduk pada 2010. Dengan jumlah tersebut, Indonesia menempati posisi kelima sebagai negara dengan penduduk terbesar setelah China, India, Amerika Serikat dan Nigeria.
Dengan 300 juta jiwa penduduk kita, maka Jakarta akan kesulitan menekan arus urbanisasi. Lalu lintas di jalan rakya bakal padat, bahkan mampat. Ketegangan sosial meluas dan mendalam. Kriminalitas bakal meluap. Belum lagi korupsi dan saling berebut rezeki.
Proyeksi ke depan yang muram ini harus jadi cambuk bagi pemerintahan Jokowi-JK beserta Gubernur Ahok Basuki Tjahaja Purnama untuk bergerak dan berbenah diri secepatnya, termasuk memindahkan ibu kota ke luar Jawa. Moratorium politik diperlukan, agar konsentrasi ke arah pembangunan sosial dan ekonomi bisa fokus, dan tidak banyak salah urus.
Negara dan masyarakat madani serta dunia usaha harus bahu-membahu memecahkan kompleksitas masalah itu, sebelum segalanya terlambat, sebelum kehidupan kian pengap, kotor dan mampat. [yha]
source : http://nasional.inilah.com/read/detail/2190581/tatkala-ri-berpenduduk-300-juta-harus-bagaimana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar