Minggu, 15 Maret 2015

Headline - 11:00 Terperosok 00:01 Karena Dolar

Jakarta - Rupiah terus merosot seperti tak terkendali. Nilainya yang selama ini dirawat oleh Bank Indonesia (BI) di kisaran Rp 12.100-Rp 12.400 per dolar, kini terkesan dibiarkan begitu saja sehingga sampai menembus Rp 13.000 per dolar AS.

Pasar pun menterjemahkan bahwa langkah itu sengaja dilakukan oleh BI untuk mengerem lonjakan impor guna mengurangi defisit neraca transaksi berjalan dan menaikkan ekspor.

Memang, aksi borong dolar belakangan ini tak bisa dihindarkan lantaran banyak perusahaan yang membutuhkannya untuk membayar utang yang jatuh tempo pada kuartal I ini. Tapi tidak hanya itu, hantaman yang lebih kencang justru muncul karena ulah para spekulan. Banyak yang mengendus rupiah sedang dijadikan ajang spekulasi oleh mereka yang mencari keuntungan jangka pendek.

Jika tak ada spekulasi dan permintaan yang tak wajar, rupiah tak akan bergerak liar hingga menembus Rp 13.000 per dolar AS. Setinggi-tingginya permintaan dolar untuk pembayaran bunga dan cicilan utang luar negeri dan impor, dampaknya takkan menyeret rupiah ke level yang terlalu rendah andaikan tak ada spekulasi dan permintaan tak wajar. Dalam kondisi normal, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp 12.400-12.600 per dolar AS.

Betul, rencana bank sentral Amerika Serikat (The Fed) menaikkan suku bunga acuan menjadi isu sangat sensitif bagi para investor keuangan. Namun, rencana The Fed itu belum pasti, karena masih ada pertentangan di antara pejabat The Fed soal kenaikan suku bunga acuan.

Memang, melemahnya rupiah sedikit menguntungkan anggaran negara. Menurut Menteri Keuangan Bambang PS Brojonegoro, setiap rupiah melemah Rp 100 per dolar AS, maka anggaran negara surplus sebesar Rp 2,3 triliun. Surplus itu diperoleh dari penerimaan migas dalam bentuk dolar AS yang naik ketika dikonversikan ke rupiah.

Kenapa bisa terjadi demikian? Karena, dalam struktur APBN sekarang semua kenaikan harga barang konsumsi di masyarakat sudah sepenuhnya diserahkan ke mekanisme pasar. Yang terakhir adalah dicabutnya subsidi bahan bakar minyak (BBM).

Kebijakan ini memang aman buat anggaran negara, tapi menjadi beban bagi masyarakat. Sebab, semakin dolar menguat dan rupiah melemah, akan mendorong harga barang-barang melambung.  Maklum, ketergantungan Indonesia terhadap produk impor masih tinggi. “Harga kebutuhan pokok sudah banyak yang naik. Saya harus pandai mengatur pengeluaran,” ujar Mariam, ibu rumah tangga yang tinggal di Kebayoran Lama.

Celakanya, hampir sebagian besar sektor pangan harus dibeli dari luar negeri. Kedelai, bawang merah dan bawang putih, jagung, garam, gula, minyak goreng, susu, mentega, kelapa, lada, teh, kopi, cengkeh, kentang, cabai, daging sapi, dan masih banyak lagi jenis pangan harus diimpor. Pada semester I-2014, nilai impor pangan negara ini mencapai US$ 2,77 miliar atau sekitar Rp 33,24 triliun. Sampai akhir tahun 2014, jumlahnya diperkirakan sudah dua kali lipat.

Nah, sudah bisa dibayangkan harga-harga tersebut di pasar perlahan-lahan bakal merambat naik. Golongan masyarakat menengah ke bawah mulai siap-siap menghitung ulang pengeluaran, sementara pendapatan mereka setiap bulan belum naik.

Para perajin tahu dan tempe juga dihinggapi rasa waswas karena bakal naiknya harga kedelai, sebagai bahan baku utama pembuatan tahu dan tempe. Memang, harga kedelai di berbagai pasar masih Rp 7.500 per kg. Tapi kalau nanti harganya menjadi Rp 9.000-Rp 10.000 per kg,”Ini alamat mati buat kami,” kata Tatang, perajin tahu dan tempe di kawasan Cengkareng.

Selama ini, kedelai itu diimpor dari Amerika Serikat (AS), Kanada, Brasil, China, dan Malaysia. Untuk tahun ini, Indonesia mengimpor sebanyak 1,8 juta ton dari kebutuhan dalam negeri sebanyak 2,5 juta ton. Sedangkan produksi kedelai nasional hanya 700 ribu ton.

Rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS juga berdampak negatif bagi perusahaan-perusahaan di sektor konsumer, seperti  PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, PT Nippon Indosari Corpindo Tbk, PT Mayora Indah Tbk, PT Unilever Indonesia Tbk , dll.  Maklum, antara 50%-60% bahan baku perusahaan-perusahaan tersebut berasal dari luar negeri.

Para analis memprediksi, produsen barang konsumsi baru akan mulai menaikkan harga jual antara kuartal II hingga kuartal III-IV tahun ini. Bagaimana pejabat moneter dan pemerintah mengatasi masalah ini? Simak Majalah InilahREVIEW edisi 29/ IV, 16-22 Maret 2015.


source : http://ekonomi.inilah.com/read/detail/2187175/terperosok-karena-dolar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar